lampungmedia.id, Sukoharjo, Pringsewu — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Politeknik Negeri Lampung melaksanakan program pemberdayaan bertajuk “Pemberdayaan Petani Kakao Melalui Pemanfaatan Pestisida Nabati Kirinyuh (Chromolaena odorata) Menuju Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan” di Desa Sukoharjo 1, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Program ini menyasar kelompok tani kakao yang selama ini masih sangat bergantung pada pestisida kimia sintetis dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Kegiatan ini diketuai oleh Ovy Erfandari, dosen bidang Produksi Tanaman Perkebunan Politeknik Negeri Lampung, bersama tim dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam program pengabdian kepada masyarakat. Program dilaksanakan melalui rangkaian penyuluhan, pelatihan praktik pembuatan pestisida nabati, penyusunan panduan aplikasi, hingga pendampingan langsung di demplot percontohan seluas 0,25 hektare pada lahan petani mitra.
“Selama ini petani kakao di Desa Sukoharjo 1 menyemprotkan pestisida kimia rata-rata dua hingga tiga kali sebulan pada musim tanam, dengan biaya yang bisa mencapai seperempat hingga sepertiga dari total biaya produksi. Padahal di sekitar lahan mereka banyak tumbuh kirinyuh yang selama ini hanya dianggap gulma, padahal daunnya mengandung senyawa aktif yang terbukti efektif menekan hama seperti ulat grayak dan kutu daun,” ujar Ovy Erfandari selaku ketua tim pelaksana.
Ia menjelaskan, program ini menyasar dua persoalan utama yang dihadapi petani, yaitu tingginya ketergantungan pada pestisida kimia sintetis dalam pengendalian hama, serta lemahnya pencatatan biaya produksi dan standar operasional prosedur (SOP) pengendalian OPT. Untuk menjawab hal tersebut, tim pelaksana memberikan penyuluhan mengenai pengendalian hama terpadu berbasis bahan alami, pelatihan langsung pembuatan pestisida nabati dari daun kirinyuh, penyusunan panduan praktis yang dapat direplikasi mandiri oleh petani, serta pendampingan penyusunan SOP dan pencatatan biaya produksi usaha tani.
Menurut Ovy, peralihan ke pestisida nabati berbasis kirinyuh berpotensi menekan biaya produksi petani hingga 30–50 persen karena bahan bakunya tersedia melimpah dan gratis di sekitar lahan. Selain manfaat ekonomi, program ini juga diharapkan mengurangi paparan bahan kimia berbahaya bagi kesehatan petani serta mendukung kelestarian ekosistem pertanian di wilayah setempat.
Kelompok tani mitra menyambut antusias program ini, mengingat sebelumnya belum pernah mendapatkan pelatihan maupun pendampingan mengenai pemanfaatan bahan alami lokal sebagai alternatif pestisida. Petani berharap penerapan pestisida nabati kirinyuh dapat menjadi solusi jangka panjang yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia yang selama ini digunakan.
Tim pengabdian berharap program ini dapat menjadi model percontohan pengendalian hama berbasis bahan alami yang dapat direplikasi oleh petani lain di Kabupaten Pringsewu maupun wilayah lain di Provinsi Lampung, sekaligus mendukung terwujudnya pertanian yang lebih produktif, sehat, dan berkelanjutan.(/red)




















