
lampungmedia.id, Bandar Lampung – Politeknik Negeri Lampung (Polinela) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi di bidang pertanian dan peternakan berkelanjutan. Melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang dibiayai oleh DIPA Polinela Tahun Anggaran 2026 dan difasilitasi oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), tim peneliti ini berhasil mengembangkan formulasi pakan ternak ruminansia yang murah, bergizi, dan ramah lingkungan. Penelitian yang diketuai oleh Eka Rizky Vury Rahayu, S.Pt., M.Sc., dan didampingi oleh dua anggota tim, yaitu Efrillia Tri Wahyu Utami, M.Pt. dan drh. Bagas Pria Prasetyo, M.Sc., merupakan dosen Program Studi Teknologi Pakan Ternak, Jurusan Peternakan, Politeknik Negeri Lampung.

Penelitian ini turut melibatkan dua mahasiswa Program Studi Teknologi Pakan Ternak, yaitu Ahmad Sagil dan Arya Triana Yudha. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian menjadi bagian penting dari proses pembelajaran, karena memberikan pengalaman langsung mulai dari pelaksanaan penelitian, analisis laboratorium, hingga pengumpulan dan pengolahan data.
Penelitian yang berjudul “Optimalisasi Limbah Tapioka sebagai Pakan Ternak Ruminansia Ramah Lingkungan” ini berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi peternak, yaitu tingginya biaya pakan dan besarnya jumlah limbah pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal. Onggok atau ampas tapioka dan kulit kopi, dua jenis limbah yang melimpah di Provinsi Lampung, dipilih sebagai bahan baku utama karena ketersediaannya yang tinggi namun pemanfaatannya masih terbatas.
Satu Formula, Dua Manfaat Sekaligus
Yang membedakan penelitian ini dari kajian-kajian sebelumnya adalah pendekatannya yang bersifat ganda. Jika riset terdahulu umumnya hanya berfokus pada peningkatan nilai gizi pakan melalui proses fermentasi, tim peneliti Polinela melangkah lebih jauh dengan memadukan onggok bersama kulit kopi yang kaya akan senyawa bioaktif, yaitu tanin dan saponin.
Kedua senyawa alami tersebut diketahui berperan sebagai penekan aktivitas bakteri metanogen di dalam rumen atau lambung ternak ruminansia, sehingga produksi gas metana dapat ditekan secara signifikan. Dengan kata lain, formulasi pakan ini dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus: meningkatkan kualitas nutrisi pakan sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC).
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak serta Laboratorium Smart Food Security (SFS) Politeknik Negeri Lampung, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Seluruh perlakuan menggunakan onggok yang telah dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kadar airnya mencapai 60%, kemudian dicampur dengan kulit kopi sesuai proporsi berikut:

Temuan Utama: Kualitas Fisik Tetap Terjaga
Hasil pengujian kualitas fisik menunjukkan bahwa peningkatan proporsi kulit kopi dalam campuran pakan berpengaruh nyata terhadap warna produk fermentasi, di mana skor warna menurun secara bertahap dari 4,06 pada perlakuan kontrol (P0) menjadi 2,27 pada perlakuan dengan kandungan kulit kopi tertinggi (P3). Penurunan ini merupakan konsekuensi alami dari warna gelap kulit kopi itu sendiri, bukan indikasi penurunan mutu.
Sementara itu, parameter kualitas fisik lain justru menunjukkan kestabilan yang meyakinkan pada seluruh perlakuan. Skor aroma berkisar antara 3,57 hingga 3,75, tekstur antara 3,27 hingga 3,50, dan tingkat keberadaan jamur berada pada rentang 4,75 hingga 4,82, yang menandakan produk fermentasi tetap aman dan berkualitas baik meski proporsi kulit kopi ditingkatkan hingga 45 persen.






Manfaat Nyata bagi Peternak dan Lingkungan
- Menekan biaya produksi pakan ternak melalui pemanfaatan limbah lokal yang mudah didapat dan bernilai ekonomis rendah.
- Mengurangi timbunan limbah onggok dan kulit kopi yang selama ini sering dibiarkan terbuang begitu saja.
- Menurunkan emisi gas metana dari sektor peternakan, sejalan dengan target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.
- Memberikan alternatif pakan ruminansia yang bergizi, aman, dan berkelanjutan bagi peternak skala kecil maupun menengah.
Harapan ke Depan
Tim peneliti berharap hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan hingga siap diterapkan secara luas di tingkat peternak, baik melalui pendampingan teknis maupun kerja sama dengan instansi terkait. Inovasi berbasis limbah lokal seperti ini diyakini mampu menjadi solusi konkret dalam mendukung ketahanan pangan, kesejahteraan peternak, sekaligus pelestarian lingkungan di Provinsi Lampung dan Indonesia secara umum.
Kontribusi Politeknik Negeri Lampung melalui penelitian ini menegaskan peran perguruan tinggi vokasi sebagai motor penggerak inovasi terapan yang berpihak pada masyarakat, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang yang bermanfaat bagi banyak pihak.


















