November 2024 adalah momentum penting bagi proses kepemimpinan di 38 Provinsi serta 514 Kabupaten, Kota yang yang terbentang dari ujung Sumatera hingga Papua.

Menarik bila kita mengikuti perjalanan pilkada di setiap wilayah & daerah.

Perang citra, bongkar aib selalu menjadi topik utama dalam setiap debat dan diskusi, sosialisasi dan deklarasi. Miris memang, namun kondisi inilah yang sama-sama kita sering temui.

Kondisi ini tentu saja bila terus berkembang, akan semakin mematikan nalar tentang kompetisi ide dan gagasan serta tawaran program dari para bakal calon yang akan berkompetisi.

Khusus untuk Lampung, saya mencoba mengikuti perkembangan perpolitikan dan perbincangan teman-teman di sosial media dalam menyongsong Pilgub & pilkada di Lampung.

Sekedar mengingatkan, di Provinsi Lampung, 27 November nanti, pemilihan Gubernur akan berlangsung bersamaan dengan pilkada Bupati & Walikota di 15 Kokab yang ada.

Dari pengamatan yang kami ikuti, paling tidak ada beberapa catatan menarik yang coba kami rangkum dari setiap perdebatan yang berkembang, khususnya yang ada di sosial media.

Pertama, dari setiap perdebatan kinerja incumbent misalnya, penilaian masyarakat lebih dominan digiring pada opini citra bukan pada efektivitas kinerja.

Bagi pendukung incumbent, tentunya sosialisasi hasil kinerja selama menjabat merupakan senjata ampuh dalam membangun citra agar periode selanjutnya akan dipilih lagi.

Pun sebaliknya, bagi kompetitor, kritik buruknya kinerja dan prestasi merupakan senjata andalan dalam rangka menjatuhkan citra incumbent di mata publik.

Kedua, perang buka aib dan kasus. Hal ini pun menjadi semacam cara ampuh untuk melumpuhkan lawan kompetisi. Sudah menjadi trend di setiap pilkada, bahwa bakal calon yang akan berkompetisi ada yang akan dibuka aibnya, bisa dugaan perbuatan asusila, pemakaian narkoba sampai pada tindak pidana korupsi.

Seperti yang kami singgung di atas, amat disayangkan bila pola-pola perang citra dan aib terus yang ditonjolkan. Maka, pola-pola elegan tentang kompetisi ide dan gagasan serta tawaran program unggulan akan semakin tergerus dan tenggelam.

Menanti pemimpin yang punya nyali & akalnya berfungsi.

Karakter negarawan tentu sangat dibutuhkan untuk kepemimpinan Lampung ke depan. Ia akan datang dengan tawaran ide dan program unggulan yang memang dibutuhkan untuk kemajuan provinsi ini.

Ia tidak akan disibukan dengan kampanye citra dan bongkar aib lawan, namun ia akan disibukan dengan melihat permasalahan Lampung secara utuh, kemudian menyusun sebuah tawaran tahapan kerja. Dan tentunya akan merangkul semua kalangan yang ada untuk bersama-sama membangun Lampung.

Pemimpin kedepan haruslah sosok yang memiliki kredibilitas dan kompetensi. Sebab, ia diharapkan menjadi pemimpin yang peduli, cerdas dan soluftif.

Mereka adalah para pemimpin yang mampu mengejawantahkan filosofi “majulah tanpa menyingkirkan orang lain”, “naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain”, “jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain”, “bahagia tanpa menyakiti orang lain”.

Semoga karakter tersebut benar-benar hadir dan ditakdirkan memimpin Provinsi Lampung dan 15 Kabupaten Kota yang saat ini ada.

#opini #imronrosadi
#pilgub #pilkada #2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini