lampungmedia.id, Teheran — Konflik militer antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia serta meningkatkan tekanan ekonomi di berbagai negara. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya gangguan jalur pengiriman energi di Selat Hormuz, disebut sebagai faktor utama yang mengguncang pasar energi global.

Laporan sejumlah lembaga dan media internasional menyebutkan harga minyak melonjak signifikan sejak serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Harga minyak acuan Brent dilaporkan naik lebih dari 50 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) turut menguat tajam akibat kekhawatiran terganggunya pasokan global. ()

Selain itu, harga minyak sempat menembus kisaran di atas US$100 per barel, bahkan dalam beberapa skenario konflik berkepanjangan berpotensi mencapai level jauh lebih tinggi jika infrastruktur ekspor Iran kembali terdampak. ()

Negara-Negara Paling Terdampak

Analis energi menyebut dampak terbesar dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa. Gangguan pasokan global menyebabkan risiko kelangkaan bahan bakar serta kenaikan biaya listrik dan transportasi. ()

Beberapa wilayah yang diprediksi paling terdampak antara lain:

  • Asia Timur: berpotensi menghadapi pembatasan listrik akibat lonjakan biaya energi
  • Asia Selatan dan Asia Tenggara: risiko kekurangan bahan bakar serta kenaikan harga transportasi
  • Eropa: tekanan inflasi akibat biaya energi dan industri manufaktur meningkat
  • Amerika Serikat: harga bensin domestik naik mendekati US$4 per galon dan memicu kekhawatiran inflasi baru ()

Selain itu, gangguan pasokan dari kawasan Teluk juga membuat negara-negara Asia berlomba mencari sumber alternatif dengan harga lebih mahal, memperparah volatilitas pasar global. ()

Jalur Energi Strategis Terganggu

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Gangguan pada rute ini langsung memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran krisis global. ()

Bahkan, sejumlah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk dan Iran dilaporkan menyebabkan penurunan pasokan global serta memperbesar risiko krisis energi berkepanjangan. ()

Dampak Ekonomi Global

Kenaikan harga minyak berdampak luas terhadap berbagai sektor, mulai dari transportasi, industri, hingga pangan. Biaya logistik meningkat, harga listrik naik, dan inflasi berpotensi melonjak di banyak negara. Bank sentral di berbagai negara juga menghadapi tekanan untuk menahan suku bunga lebih lama akibat lonjakan energi. ()

Analis memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, harga minyak berpotensi tetap tinggi dalam jangka panjang. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global serta meningkatkan risiko resesi di sejumlah negara pengimpor energi. ()

Situasi ini membuat pasar energi dunia berada dalam kondisi sangat fluktuatif, sementara negara-negara terdampak mulai menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penghematan energi, diversifikasi pasokan, hingga kebijakan subsidi bahan bakar untuk menahan lonjakan harga domestik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini