lampungmedia.id, Jakarta – Meskipun tren kasus global COVID-19 menunjukkan penurunan sejak Oktober 2024, gelombang baru tetap mengintai berbagai belahan dunia. Berdasarkan data terbaru dari World Health Organization (WHO) per 27 April 2025, tercatat 25.500 kasus baru COVID-19 dalam 28 hari terakhir, dengan Brasil menjadi negara penyumbang kasus tertinggi (7.000 kasus) dan Amerika Serikat mencatatkan angka kematian tertinggi (sekitar 1.200 jiwa).

Menanggapi perkembangan ini, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), anggota Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa kepanikan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa mitigasi berbasis individu tetap menjadi kunci dalam mencegah penyebaran varian baru seperti JN.1 yang saat ini ditetapkan sebagai Variant of Interest (VOI) oleh WHO, serta lima varian lain yang sedang dalam pemantauan.

“Gejala yang ditimbulkan varian-varian baru relatif ringan, menyerupai Omicron, seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, hingga brain fog. Namun, risiko tetap tinggi bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan komorbid,” jelas dr. Erlina.

Strategi Pencegahan Berbasis Individu

Mitigasi risiko dapat dilakukan melalui kombinasi upaya lingkungan dan gaya hidup sehat. Dr. Erlina menekankan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti:

  • Rutin mencuci tangan pakai sabun

  • Menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan

  • Menjaga kebersihan permukaan benda yang sering disentuh

  • Menjaga asupan nutrisi

  • Menghindari kontak erat dengan penderita

  • Melengkapi vaksinasi termasuk booster

Selain itu, masyarakat diimbau untuk bijak menyikapi momentum libur panjang, seperti Idul Adha mendatang, dengan menghindari keramaian guna menekan potensi lonjakan kasus.

Peran Media dan Tenaga Kesehatan

Dalam mencegah disinformasi, dr. Erlina menyarankan masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan dari sumber kredibel seperti WHO, Kementerian Kesehatan, serta media yang terverifikasi. “Waspada tapi jangan panik. Edukasi dan tindakan nyata di tingkat individu adalah benteng pertama melawan pandemi,” tegasnya.

Upaya Pemerintah

Kementerian Kesehatan RI juga kembali menggencarkan program vaksinasi booster dan penyediaan layanan kesehatan berbasis komunitas. Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Maxi Rein Rondonuwu, pemerintah menargetkan cakupan booster pada kelompok prioritas mencapai 80% sebelum akhir 2025.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini