lampungmedia.co, Bandar Lampung – Menjelang bulan Ramadhan, harga kebutuhan dapur seperti cabai dan bawang mulai bergerak naik di pasar tradisional Kota Bandar Lampung. Kenaikan harga dipicu kendala distribusi dan transportasi Jawa – Sumatra.

Keterangan yang diperoleh di Pasar Pasir Gintung, pasar tradisional terkemuka di Kota Bandar Lampung, Ahad (6/3), kenaikan harga terjadi pada cabai merah dan rawit, bawang merah dan bawang putih. Selain itu kenaikan harga juga terjadi pada telur dan daging sapi. Kenaikan harga komoditas dapur tersebut sudah terjadi sejak pertengahan bulan lalu.

Pergerakan harga terpantau sejak pertengahan Februari sampai awal Maret, harga cabai merah naik dari Rp 32.000 per kg menjadi Rp 35.000 per kg. Cabai rawit dari Rp 35.000 menjadi Rp 45.000 per kg.

Cabai rawit jengki dari Rp 25.000 per kg menjadi Rp 32.000 per kg. Bawang merah dari Rp 30.000 menjadi Rp 32.000 per kg. Bawang putih naik dari Rp 24.000 per kg menjadi Rp 26.000 per kg. Sedangkan bawang putih kating dari Rp 27.000 per kg menjadi Rp 30.000 per kg.

Selain harga cabai dan bawang, harga daging sapi juga terus bergerak naik dari sebelumnya Rp 130 per kg menjadi Rp 132.000 per kg, sedangkan telur ayam juga mengalami kenaikan dari Rp 21.500 menjadi Rp 22.000 per kg. Sedangkan ayam potong kampung dijual Rp 90 ribu sampai Rp 120 ribu per ekor.

Menurut Darmin, pedagang cabai dan bawang di Pasar Pasir Gintung, kenaikan harga kebutuhan dapur karena masalah transportasi pengiriman barang dari Jawa ke Sumatra. Ia mengatakan cabai dan bawang dikirim dari Jawa, karena stok bawang dan cabai lokal sedikit.

“Sekarang banyak masalah di jalan pandemi Covid-19 banyak jalan tutup, juga penyebarang Merak – Bakauheni gangguan cuaca jadi lama pengiriman,” kata Darmin.

Ia mengatakan, selaku pengecer bawang dan cabai terpaksa menyesuaikan dengan harga yang dijual agen atau distributor. “Kalau mereka naik, kami juga terpaksa menaikkan karena modal juga naik,” ujarnya.

Agen cabai dan bawang yang berada di Pasar Pasir Gintung menyatakan, kenaikan karena masalah transportasi di jalan. Menurut Usman, masalah komoditas bawang dan cabai tersedia, namun biaya perjalanan yang membengkak karena masalah penyeberangan dan juga jalan-jalan yang tutup. “Karena itu, ongkos di jalan jadi membengkak,” katanya.

Artikel ini telah terbit di sini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini