Lampungmedia.co, Jakarta – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengusulkan kepada pemerintah agar menyiapkan program bantuan sosial (bansos) kepada keluarga miskin untuk merespons dampak kenaikan harga BBM subsidi. Bantuan diberikan dalam bentuk tunai sebesar Rp 1 juta kepada 26 juta keluarga miskin.
“Saya tidak menutup mata, (kenaikan harga BBM subsidi) membuat nasib rakyat bawah makin berat. Karena itu, salurkan uang tunai kepada mereka Rp 1 juta. Itu lebih berarti ketimbang rakyat miskinnya dijadikannya alasan untuk tidak menaikkan harga BBM,” kata Faisal Basri dalam webinar bertajuk “Kenaikan BBM dan Ancaman Inflasi”, Minggu (28/8/2022).
Menurut Faisal, yang paling cerewet merespons kenaikan harga BBM subsidi sebetulnya bukan rakyat miskin, melainkan kelompok menengah yang selama ini lebih banyak mengonsumsi pertalite maupun solar subsidi. Misalnya saja untuk pertalite, konsumsinya untuk mobil pribadi 98,7%, taksi online 0,6%, taksi pelat kuning 0,3%, angkot 0,4%. Sedangkan untuk roda dua mayoritasnya atau 97,8% dikonsumsi oleh sepeda motor pribadi, sisanya ojek online.
“Silakan naikkan, tetapi keluarga miskin diberi Rp 1 juta,” kata Faisal.
Menurut Faisal, kenaikan harga energi sebetulnya juga terjadi di banyak negara. “Ada 100 negara yang menaikkan harga BBM, kok tidak takut? Kok kita culun banget sih. 100 negara lebih, banyak yang lebih menderita dari kita,” kata Faisal.
Artikel ini sebelumnya telah tayang di sini

















