lampungmedia.id, Tel Aviv–Teheran – Ketegangan antara Israel dan Iran meningkat tajam sejak akhir pekan lalu, setelah Israel meluncurkan Operasi Rising Lion, serangan udara besar-besaran yang menyasar lebih dari 100 lokasi strategis di Iran, termasuk situs nuklir, pusat kendali militer, dan pangkalan Garda Revolusi Islam (IRGC).
Serangan tersebut merupakan respons langsung atas serangkaian serangan drone dan rudal dari wilayah Iran ke Tel Aviv, yang telah menyebabkan jatuhnya korban sipil serta kerusakan infrastruktur utama.
Israel Lancarkan Serangan Terbesar Sejak 2006
Kementerian Pertahanan Israel menyatakan bahwa operasi ini merupakan salah satu serangan udara paling kompleks dalam dua dekade terakhir. Sasaran utamanya termasuk:
-
Pusat pengayaan uranium Fordow dan Natanz.
-
Pangkalan rudal balistik di Isfahan dan Yazd.
-
Markas besar IRGC dan depot senjata canggih di Teheran.
Militer Israel mengklaim sebagian besar operasi dilakukan dengan akurasi tinggi dan meminimalisasi korban sipil. Namun, pihak berwenang Iran melaporkan lebih dari 200 korban jiwa, termasuk sejumlah ilmuwan nuklir dan personel militer senior.
Iran Balas Serangan: “Tidak Ada Garansi Keamanan di Timur Tengah”
Sebagai balasan, Iran menembakkan lebih dari 250 rudal dan drone ke arah kota-kota di Israel tengah dan utara. Sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat sekitar 90% serangan, namun beberapa rudal berhasil menghantam kawasan permukiman di Tel Aviv dan Haifa.
Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa “keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam konflik ini akan menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.”
AS Dituding Terlibat Langsung, Trump Bersikap Hati-hati
Presiden AS Donald Trump membantah keterlibatan langsung dalam perencanaan serangan Israel, namun mengakui bahwa intelijen dan dukungan teknologi dari AS memang digunakan oleh Israel.
Trump juga dikabarkan menolak permintaan Israel untuk memberikan izin menyerang langsung pemimpin spiritual Iran, dengan alasan kekhawatiran dampak global yang lebih luas.
Di sisi lain, sejumlah analis mengindikasikan bahwa penggunaan bom penembus bunker di fasilitas Fordow “hampir pasti berasal dari arsenal AS”.
Reaksi Internasional: G7 dan PBB Serukan Gencatan Senjata
Konflik berskala penuh ini telah memicu kekhawatiran luas di dunia internasional:
-
G7 secara kolektif menyerukan penghentian serangan dari kedua pihak dan mendesak dimulainya dialog diplomatik segera.
-
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan sidang darurat pada 19 Juni 2025 untuk membahas dampak kemanusiaan dan potensi meluasnya perang di kawasan.
-
Uni Eropa memperingatkan risiko terputusnya pasokan energi global akibat potensi penutupan Selat Hormuz.
Kondisi Sipil Memburuk
Lebih dari 100.000 warga Teheran telah mengungsi ke luar kota. Di Israel, sekolah-sekolah ditutup, dan sistem darurat sipil diaktifkan secara penuh. Badan-badan bantuan internasional seperti ICRC dan WHO memperingatkan akan krisis medis jika eskalasi terus berlanjut.
Konflik Israel–Iran yang semula berbentuk perang bayangan kini telah berkembang menjadi konfrontasi langsung berskala regional, dengan keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat. Dunia internasional kini berada dalam posisi kritis untuk menahan konflik agar tidak berubah menjadi perang Timur Tengah berskala penuh.

















