Timang Timang
: buat hisyam
aku tak akan melupakanmu
seperti kupukupu pada kepompong
sesudah menjelma jadi ulat di rahim ibu, kau mengeram
tak sudah-sudah hingga terbelah
“kau tahu yang menetas itu
bukan butiran air, meski saat itu
di luar ruangan hujan,” bisikku
lalu waktu yang mengeraskan
bulan yang menjadikan
“aku timang kau…”
timang-timang
anakku, hisyam, sayang
terimalah cintaku
sepanjang jalan
segenap bulan bulan!
Cikarang, Januari 2012
Saat Malam Hisyam Terbangun
saat malam benar-benar runcing
hisyam terbangun: wajahnya layu
namun matanya bagai pisau
beredar: “di mana matasusu
untukku malam ini?” tanyanya
hisyam selalu terbangun
saat malam sungguh-sungguh tajam
ia mencari matasusu yang dulu
dijanjikan. ia ingin menegaknya
“aku haus, beri aku seteguk.”
dan aku selalu mengucurkan
setiap cairan: lidah hisyam
menari-nari. matanya
berdansa…
Cikarang, Januari-Februari 2012
Ingin Selalu Menggambarnya
dari nama-nama yang kuingat
namamu tak pernah hilang
sebagai pelangi:
aku ingin selalu menggambarnya…
Natar-Cikarang, 15 Februari 2012
Akulah Pagi
akulah pagi
bukan embun
bukan kicau burung
tapi pemakan sang rembulan
maka tiap pagi kusiapkan
sisa rembulan di meja makan
untukmu, kekasih, hanya senyuman
akulah pagi
jauh dari kicau burung
tak kenal embun
selain pecahan rembulan
– dengan sisa mata ini
kunikmati sekuntum rembulan
di pagi yang tak selalu berembun
bungabunga di taman tetap ranum
Natar Desember 2011-Cikarang Januari 2012
Menyiapkan Puisi
menyiapkan untuk sebuah puisi
“apakah kau mau datang untukku,
kata-kata?” bisikku pada huruf
yang beterbangan itu..
di ini kota
wangi kopi
semerbak tubuhmu
hujan jatuh
lebur dalam kenangan
dan sebuah puisi
kautitipkan saat mimpi
tak pernah jadi
wahai, kau yang
menghamili katakata
kali ini kuingin kaudatang:
timang timang
timbang timbang
jadi dendang
aku pun berdendang
“jadilah jadi puisi…”
21-12-11
Di Matamu
pada matamu kutemukan waktu
seribu kata sudah kusari
jadi putik puisi
dan kini tumbuh pohon
bagiku berteduh
di mata hisyam
membayang halaman
tempatku bergurau:
sebab kaulah taman …
pada matamu kutemukan waktu
aku pun berenang
menuju pulau
atau sekalian laut dalam
meraba lekuk tubuhmu
: mendugaduga usiaku?
pada matamu kutemukan jalan
Lampung, 26 Desember 2011—Cikarang, 16 Februari 2012
*Alya Salaisha-Sinta adalah nama pena dari Purbarani Sinta Hardianti, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 26 Maret 1986. Menulis puisi dan mengikuti lomba baca puisi sejak di bangku kuliah di Politeknik Unila (kini Politeknik Negeri Lampung—Polinela). Sejumlah puisinya telah dimuat di Sastradigital, Lampung Post, antologi bersama Akulah Musi (Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, Sumatera Selatan) dan Tuah Tara No Ate (Temu Sastrawan Indonesia 4 di Ternate, 2011). Alya yang baru saja mendapat momongan ini, bolak-balik Lampung-Cikarang. Sampai kini belum terwujud rencana menerbitkan kumpulan puisi tunggal.



















