lampungmedia.co, Opini – Dulu sekitar tahun 1993an warga Bandar Lampung, khususnya anak-anak Kemiling familiar dengan yang namanya Bus Sekolah.
Apalagi bagi saya dan temen-temen yang kala itu masih duduk di bangku SD dan sebagian lagi SMP, hampir tiap pagi kami menunggu di perempatan depan untuk menunggu datangnya Bus Sekolah yang akan mengantar kami menuju sekolah.
Tapi keberadaan Bus Sekolah kala itu tidak berlangsung lama, klo tidak salah hanya berjalan kurang lebih 1 tahun. Saya tidak tau persis apa penyebabnya, karena memang di tahun tersebut saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, jadi belum terlalu mengerti apa yang terjadi.
Saya pun tidak begitu faham, apakah saat itu Bus Sekolah yang beroperasi adalah milik Pemda atau Swasta. Yang saya ingat dulu itu Busnya berwarna kuning terang 😎
O yaa hampir lupa. Di tahun-tahun tersebut mayoritas anak-anak Kemiling bila menuju tempat sekolah, alternatifnya cuma tiga, naik angkot, jalan kaki dan menggunakan fasilitas Bus Sekolah. Dan mayoritas memang untuk kami yang tinggal di sekitaran Jalan Teuku Cik Ditiro, Imam Bonjol dan komplek Perum Beringin Raya, berjalan kaki berangkat dan pulang sekolah merupakan kenangan dan keasyikan tersendiri.
He.he, tapi sekarang bisa dipastikan aktivitas jalan kaki itu sudah tergerus dengan keberadaan dan kemudahan kepemilikan kendaraan roda dua dan roda empat.
Hampir tiap pagi (sebelum era covid) kita melihat jalanan selalu penuh dengan ratusan kendaraan yang hilir mudik mengantar anak-anak menuju sekolah. Saya dan istri pun termasuk salah satu orang tua yang mengantar putra – putra kami kesekolah dengan menggunakan kendaraan 🙏😊
Yang miris adalah, tidak sedikit siswa-siswi SMP dan SMA yang sudah barang tentu belum memiliki SIM, begitu enjoy nya mengendarai sepeda motor dan mobil sendiri untuk menuju sekolah.
Jadi inget cerita teman yang sempat menemani istrinya di tahun 2014an saat mengambil master di Jepang.
Di sana, anak-anak jenjang SD sd SMP bila menuju sekolah dilarang menggunakan kendaraan. Mereka diwajibkan berjalan kaki bila menuju sekolah, tidak boleh naik kendaraan umum atau diantarkan orang tuanya.
Usut punya usut ternyata kebijakan itu ditetapkan pemerintah Jepang karena memang jumlah sekolah negeri disana dekat dengan pemukiman warga, dan yang pasti langkah itu diterapkan sebagai tahapan pemerataan kualitas pendidikan serta solusi agar anak-anak yang pintar tidak berlomba-lomba berkumpul di satu sekolah tertentu.
Lha itukan Jepang, apa ya bisa Indonesia, khususnya Kota Bandar Lampung tercinta mencontohnya. Mimpi kali !! 😎
Sekali lagi, ini bicara tentang masa depan.
Bila sekedar bermimpi saja kita tidak berani, apalagi di alam nyata 😊
Bila kita perhatikan, kota Bandar Lampung dalam 10 tahun ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tapi ya itu, masih berkutat pada pertumbuhan yang bersifat fisik, seperti jalan layang,mall,hotel,ruko dan pemukiman warga.
Kita belum melihat terobosan-terobosan yang cukup berani dalam inovasi di sektor pelayanan publik dan fasilitas umum.
Contoh seperti pengantar diatas, saya melihat pemerintah Kota harus memiliki grand desain dalam pelayanan di sektor pendidikan.
Aah. … Semoga Pemerintah, khususnya Walikota Bandar Lampung memikirkan dan tentunya memiliki program yang nyambung dengan beberapa hal yang saya uraikan diatas.
Beberapa tahun lalu, sempat berdiskusi dengan salah seorang dosen yang konsen dengan tata kota dan transportasi di Bandar Lampung.
Beliau berucap, dalam kacamata teknik semua bisa dibuat, tinggal kemauan dari pengambil kebijakan saja.
Saya pikir, benar juga.
Bila untuk membangun beberapa jalan layang saja Pemerintah kota bisa mengajukan skema pinjaman yang nilainya Ratusan Miliyar.
Artinya dalam mendesain sebuah terobosan dalam rangka penyediaan serta pembangunan fasilitas publik yang berkualitas, aman, cepat dan gratis, harusnya Pemerintah juga bisa 😎
Belum lagi bila melibatkan para pengusaha yang tiap hari mengambil keuntungan dengan berbisnis di Kota ini, tentu saja dana-dana CSR perusahaannya bisa dimaksimalkan dalam upaya peningkatan pelayanan publik yang ada di Kota Bandar Lampung.
Bagi pengusaha, kuncinya sederhana. Bila pola kerjasama yang dikembangkan mengedepankan prinsip-prinsip transparasi serta mengutamakan kepentingan masyarakat, pasti mereka tidak akan ragu untuk membantu.
Kita tunggu saja,
Sekali lagi kita butuh pemimpin yang memiliki kapasitas, integritas untuk membawa Kota ini lebih maju, modern dan yang pasti tetap mengedepankan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya.
🙏🙏🙏
Created By :
M Imron Rosadi
(Warga Kemiling)

















