GR (PESAWARAN) – Dengan dicanangkannya Pesawaran sebagai daerah mandiri penghasil kakao, Pemerintah Gubernur Provinsi Lampung M. Ridho Ficardo melalaui sekda Provinsi Sutono akan melakukan peremajaan 200 Ha tanaman kakao, dengan dibantu Pemerintah Pusat, pencanangan Desa Mandiri Kakao dan penyerahan bibit diawali acara Temu Tugas Perkebunan dan Peternakan serta Gerakan Penanganan Gangguan Reproduksi, di Lapangan Desa Kertasana Kecamatan Kedondong Kabupaten Pesawaran, Kamis (7/12/2017).
Pesawaran sebagai bumi kakao tak terlepas dari potensi daerah ini yang merupakan penyumbang kakao terbesar di Lampung. Saat pencanangan, hadir juga Inspektur II Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian RI, Widono. dan Gubernur Ridho yang diwakili Sekdaprov Sutono.
Dalam sambutannya Bupati Pesawaran, Dedi Romadhona menuturkan Kabupaten Pesawaran memiliki tanaman kakao yang cukup luas hingga mencapai ribuan hektare .
” Pesawaran memiliki luas tanaman kakao hingga 30 000 Ha, bahkan kami juga sudah memiliki kebun percontohan kakao di Desa Kurungan Nyawa, akan tetapi kebun percontohan ada di desa Sungai Langka hingga Desa Wiyono,” ujar Bupati Dendi.
Lebih lanjut masih ujar Bupati, bantuan yang diberikan Pemerintah Provinsi Lampung spuntuk meremajakan tanaman kakao seluas 200 Ha sudah kami terima, bahkan Pemsrintah Pusat juga telah membantu untuk percetakan sawah melalui Pemerintah Provinsi.
Disampaikan Gubernur melalui seksa Sutono, Pemprov Lampung berupaya mendukung ketahanan pangan dengan terus meningkatkan pemanfaatan teknologi pertanian dan mekanisme pertanian untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan melalui tiga kegiatan prioritas.
“Tiga hal tersebut yakni pengembangan usaha pangan masyarakat, penguatan lembaga distribusi pangan, industri pengolahan dan pasca panen, dan optimalisasi lahan pekarangan,” ujar Sutono.
Sedangkan Inspektur II Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian RI, Widono mengapresiasi langkah yang diambil Pemprov Lampung. Dia menuturkan saat ini Indonesia tengah membangun lumbung pangan dunia 2045 yang tentu saja ditopang oleh Lampung.
“Mulai sekarang kita sudah menyusun roadmapnya. Alhmadulilah untuk padi dan jagung kita sudah swasembadakan, sehingga satu hingga dua tahun ini kita sudah tidak ada import khususnya untuk padi dan jagung,” ujar Widono.
Menghadapi persaingan global dan kemungkinan terjadinya krisis pangan, ditambah dengan peningkatan penduduk dunia yang sangat cepat, ini harus dilakukan dengan ketersediannya pangan.
“Terkait komoditi padi, kita juga melalukan kegiatan intensifikasi yang dilakukan Kementerian, ini dilakukan dalam rangka meningkatkan produktifitas dari lahan, Kementerian sendiri sekarang banyak membantu masyarakat seperti benih dan kita juga ada program benih subsidi yang harganya murah. Lalu bantuan alat dan mesin yang dikelola para petani,” ujar Widono. (Her)



















